ASAL-USUL TERJADINYA DESA BOLO KABUPATEN DEMAK
Pada zaman dahulu disebuah desa ada persahabatan antara dua lelaki yang
sangat sakti dan dihormati banyak orang,yaitu Mbah Bolo Kakung dan Mbah
Gendreng.
Masyarakat atau penduduk sekitar sangat menghormati dan
meminta tolong pada Mbah Bolo Kakung dan Mbah Gendreng, Mbah Bolo Kakung
dan Mbah Gendreng brsahabat dari kecil dan sudah seperti saudara
sekandung.
Mbah Bolo Kakung dan Mbah Gendreng sangat baik pada semua
orang, dan tidak pernah sombong pada rakyat kecil, Mbah Bolo Kakung dan
Mbah Gendreng sangat baik dan suka menolong banyak orang, maka banyak
orang yang baik dan senang terhadap Mbah Bolo Kakung dan Mbah Gendreng.
Setelah
beberapa bulan kemudian Mbah Bolo Kakung dan Mbah Gendreng jalan-jalan
disekitar desa untuk melihat hasil panen padi para penduduk sekitar dan
sewaktu ditengah perjalanan Mbah Bolo berpapasan dengan seorang gadis
yang sangat cantik, lalu Mbah Bolo merasakan adanya rasa cinta pada
pandangan pertama pada gadis cantik itu.
Setelah beberapa hari, Mbah
Bolo memberanikan diri untuk mengajak perempuan cantik itu berkenalan,
tapi Mbah Bolo takut dan malu untuk mengatakan apa yang Mbah Bolo
pikirkan. Dan kemudian Mbah Bolo bercerita kepada Mbah Gendreng agar
Mbah Gendreng mau membantu Mbah Bolo untuk berkenalan dengangadis yang
ia cintai.
Akhirnya tidak lama kemudian gadis cantik itu muncul dan
Mbah Bolo takut untuk menyapa gadis cantik itu, dan Mbah Gendreng
mencoba membantu Mbah Bolo untukmenanyakan siapa nama gadis cantik itu.
Kemudian Mbah Bolo dengan kaku dan malu-malumencoba berkenalan dan
mendekati gadis cantik itu.
Setelah beberapa bulan berteman akhirnya
Mbah Bolo ingin mengatakan pada gadis tersebut bahwa Mbah Bolo sangat
mencintainya, tapi Mbah Bolo malu dan takut akan di tolak oleh gadis
tiu, lalu Mbah Gendreng membantu Mbah Bolo untuk mencoba menyatakan isi
hati Mbah Bolo karena Mbah Gendreng tahu bahwa Mbah Bolo jatuh cinta
pada pandangan pertama pada gadis cantik tersebut.
Akhirnya Mbah
Bolomencoba untuk menyatakan isi hatinya pada gadis cantik itu, dan
gadis cantik itu mersa senang dan malu karena gadis cantik itu ternyata
mempunyai rasa yang sama terhadap Mbah Bolo.
Kemudian Mbah Bolo dan
gadis cantik itu menjadi sepasang kekasih yang sangat romantis, tapi
mbah bolo tidak terburu-buru untuk mengajak gadis cantik itu menikah
karena mereka berdua inginmemantapkan hati dan mengenal satu sama lain.
Kemudian
Mbah Bolo memberi tahu pada sahabatnya yaitu Mbah Gendreng bahwa Mbah
Bolo dan gadis cantik itu telah menjadi sepasang kekasih, dan Mbah
Gendreng merasa ikut senang atas kebahagiaan Mbah Bolo, tapi disatu sisi
Mbah Gendreng sedih karena sahabatnya sudah mendapatkan kekasih tapi
Mbah Gendreng belum memiliki kekasih seperti Mbah Bolo.
Setelah
beberapa tahun kemudian, Mbah Bolo dan gadis cantik itu memutuskan untuk
menikah dan Mbah Bolo sangat senang, karena sekarang gadis yang sangat
ia cintai akihrnya menjadi miliknya untuk selamanya.
Kemudian Mbah
Gendreng mengucapkan selamat kepada Mbah Bolo, dan Mbah Bolo merasa
sangat senang dan bahagia karena mempunyai sahabat dan istri yang sangat
saying dan cintai kepadanya.
Setelah menjadi suami dan istri, Mbah
Bolo dan istrinya ingin membantu Mbah Gendreng untuk mendapatkan
pendamping hidup, karena Mbah Bolo sangat saying pada sahabatnya yaitu
Mbah Gendreng. Mbah Bolo merasa sedih karena sahabatnya yaitu Mbah
Gendreng belum juga mendapatkan kekasih, maka Mbah Bolo berusaha
membantu Mbah Gendreng. Tapi setelah beberapa bulan ternyata sia-sia,
Mbah Gendreng belum mendapatkan satupun yang cocok.
Suatu hari istri
Mbah Bolo yaitu Mbah Bolo Putri mengajak bicara Mbah Gendreng dan Mbah
Bolo merasa curiga dengan para yang mereka bicarakan antara istrinya dan
sahabatnya itu, tapi Mbah Bolo tidak mau marah-marah karena Mbah Bolo
percaya kepada istrinya dan sahabatnya itu.
Setelah beberapa minggu
Mbah Bolo selalu mengawasi apa yang dilakukan istri dan sahabatnya,
karena Mbah Bolo merasa curiga terhadap sahabatnya apakah sahabatnya
mencintai istrinya.
Satu tahun berlalu, Mbah Gendreng dan istri Mbah
Bolo jalan-jalan mencari makanan disekitar hutan dan disepanjang sungai
dan waktu mereka pulang ternyata Mbah Bolo yakin bahwa sahabatnya memang
menyukai istri Mbah Bolo, lalu Mbah Bolo melarang Mbah Bolo Putri untuk
bertemu` dengan Mbah Gendreng untuk beberapa minggu.
Suatu hari Mbah
Gendreng bertanya kepada Mbah Bolo Kakung, “Dimana istrimu, kenapa
tidak kau ajak keluar bersama kita?”. Mbah Bolo merasa marah dan curiga
bahwa Mbah Gendreng mencintai istrinya, dan Mbah Bolo Kakung melarang
Mbah Gendreng untuk bertemu dengan Mbah Bolo Putri.
Beberapa bulan
kemudian, tidak sengaja Mbah Bolo Putri dan Mbah Gendreng berpapasan
dijalan, lalu Mbah Bolo marah dan memutuskan persahabatannya dengan Mbah
Gendreng, lalu Mbah Bolo menganggap Mbah Gendreng sekarang adalah
musuhnya, tapi Mbah gendreng tidak membenci sahabatnya, Mbah Bolo salah
paham dengan sahabatnya.
Beberapa minggu kemudian Mbah Bolo
bertengkar dengan Mbah Gendreng, mereka bertengkar diantara dua dusun,
yaitu dusun dakwos dan dusun ngepong, kemudian tidak sengaja Mbah Bolo
membunuh Mbah Gendreng dan Mbah Gendreng akhirnya meninggal dunia. Mbah
Bolo takut akan ketahuan orang, lalu mayat Mbah Gendreng dilempar ke
dalam sungai yang mengalir deras disepanjang sungai, Mbah Bolo membunuh
Mbah Gendreng tepat ditengah sungai yang terletak di dua dusun.
Lalu
Mbah Bolo pulang dengan tangan yang penuh dengan bekas darah. Sewaktu
sampai dirumah, Mbah Bolo sudah ditunggu Mbah Bolo Putri. Lalu Mbah Bolo
Putri kaget dan terheran-heran karena didalam pakaian suaminya terdapat
banyak darah. Mbah Bolo Putri bertanya kepada Mbah Bolo Kakung dan Mbah
Bolo Kakung menceritakan bahwa Mbah Gendreng telah ia bunuh dengan
tidak sengaja, karena Mbah Bolo marah terhadap Mbah Gendreng karena ia
telah mencintai istri sahabatnya sendiri. Lalu Mbah Bolo Putri marah
terhadap apa yang dilakukan suaminya tersebut.
Kemudian Mbah Bolo
Putri menceritakan semua yang ia lakukan bersama Mbah Gendreng, lalu
Mbah Bolo Kakung merasa menyesal terhadap perbuatan yang ia lakukan
terhadap sahabatnya yang begitu baik padanya.
Lalu Mbah Bolo Kakung
kembali ke sungai dan mencari jasad sahabatnya. Setelah sepanjang sungai
dacari akhirnya Mbah Bolo Kakung menemukan jasad Mbah Gendreng dan Mbah
Bolo Kakung merasa menyesal atas perbuatannya.
Akhirnya para
penduduk menamakan desa mereka dengan nama desa bolo, yaitu desa yang
artinya tempat tinggal dan Bolo adalah persahabatan jadi desa Bolo
adalah tempat tinggal persahabatan yang sangat erat. Mbah Gendreng
dimakamkan ditempat ia dibunuh yaitu dimakama desa Bolo yang terletak
disamping sungai tempat ia dibunuh Mbah bolo dan pemakaman desa tersebut
ditengah-tengah dua dusun, yaitu dusun Dakwos dan dusun Ngepung.
Setelah
berbulan-bulan Mbah Bolo dan istrinya terus-menerus merasa bersalah
atas kematian Mbah Gendreng. Dan akhirnya Mbah Bolo Kakung dan Mbah Bolo
putri meninggal dunia dimakamkan penduduk disekitar dimakan desa Bolo.
Konon,
menurut penduduk sekitar, bahwa Mbah Gendreng menjadi ular yang sangat
panjang sepanjang sungai dan menjaga air sungai tetap mengalir dan tidak
pernah kekeringan air, dan jika sesorang yang keluar malam-malam dan
melihat Mbah Bolo pada hari rabu malam kamis yang katanya Mbah Bolo
keliling desa Bolo. Dan siapa yang melihat Mbah Bolo maka akan mendapat
kemakmuran, dan katanya Mbah Gendreng dan Mbah Bolo selalu menjaga
penduduk desa Bolo jauh dari bencana.